Klaten yang sederhana
Rasanya ada rindu yang tak bisa di ungkap karena sudah lama tak kutuangkan isi pikirannku dalam bentuk tulisan disini, untuk mengobati rasa rindu itu aku ingin bercerita tentang liburanku ke kampung halaman mamahku, yaitu Klaten.
Dahulu aku berpikir, kampung mamahku kenapa tidak seterkenal itu yaa, sampai aku sadar satu hal, ternyata bukannya tidak terkenal tetapi beberapa orang memang belum tahu tempat itu hehe.. padahal kalau di pikir-pikir kampungnya dekat dengan prambanan.. (mungkin karena dahulu aku beritahu kampung halaman mamahku kesesama teman yang umurnya tak beda jauh dariku, pengetahuannya belum seluas itu, namanya juga anak kecil yang di tahu kan cuma main).
Menurutku Klaten adalah tempat melambatkan jalan, memelankan langkah, dan tempat mengendorkan otot yang tegang, untuk beberapa orang yang terbiasa dengan cepatnya Jakarta pasti kalian paham yang ku maksud kan? hehe.. Walaupun siang hari panas terik, tapi angin sepoi-sepoi dari gunung cukup menutupi panas itu terkadang. Klaten menurutku sederhana, sesederhana mbahku, sesederhana adiknya mamah alias om ku yang biasa ku panggil 'lek' atau sebutan om dalam bahasa jawa. Senangnya pun sederhana, kadang karena semangkuk bakso yang bapakku belikan, kadang karena sepiring lauk, nasi, dan, sayur yang mamahku masakkan, atau kadang senangnya sesederhana di belikan 'gudangan' dari pasar olehku dan mamah. Klaten memang sesederhana itu, terkadang aku saja yang rumit.
Di kota seribu umbul ini aku belajar sesuatu, selain kesederhanaan itu aku belajar untuk terus mau berolahraga, khususnya lari. Saat itu waktu liburan telah usai, saatnya keluarga kami kembali lagi ke kota perjuangan untuk bekerja dan belajar, hari itu aku dan bapak pergi membeli oleh-oleh untuk keluargaku sendiri, untuk temanku, dan untuk tetangga-tetangga di sekitar rumahku. Menurutku oleh-oleh yang kami beli lumayan banyak sehingga aku mengusulkan ke bapakku untuk dipaketkan saja oleh-olehnya karena mobilnya pasti penuh membawa oleh-oleh lainnya dari nenek-neneku dan dari keluarga lainnya, akhirnya bapakku menyetujuinya. Setelah membeli oleh-oleh kami pergi mencari jasa pengiriman yang sudah buka, kami berkeliling lumayan lama di tengah teriknya Klaten di siang hari, tapi kami tak menyerah, di pencarian jasa pengiriman ke tiga barulah kami dapatkan jasa pengiriman yang buka.. rasanya jangan ditanya, bersyukur sekali.. seperti mendapatkan air di tenga sahara (haha lebay..) disinilah aku termotivasi untuk terus berolahraga, dari pasangan yang menjaga jasa pengiriman itu (mereka membuka toko jasa pengiriman di rumah mereka sendiri) saat di tanya ingin dikirim ke alamat mana (urusan administratif) ku jawab sambil kuperhatikan etalase di belakangnya yang berisi banyak sekali mendali lari itu, wauw aku tertegun dan termotivasi.. (masa tiba-tiba termotivasi si nov? iyaa engga tiba-tiba juga sii) trigernya adalah bapak dan ibu itu yang masih kelihatan fit, kulitnya bagus walaupun sudah tua hehe.. gagah saja ku lihatnya, ditambah logat Klaten yang lembut, membuatnya semakin berkharisma hehe.. intinya si karena punya hobi positif.. itu yang membuatku lebih termotivasi sebetulnya.. Kalau dilihat dari raut wajah pasangan itu sii, sepertinya mereka adalah pasangan yang terdidik, makin-makin saja kan motivasi ku bertambah, selain lari aku pun ingin ramah dengan tutur kata lembut (memang bisa? ya kita usahakan hehe), aku pun jadi ingin menemukan teman masa depan yang siap menemaniku lari untuk hal-hal positif (jiakh 😖❤️) termotivasi..
Jadi, dari Klaten aku belajar akan kesederhana, kelembutan, dan hobi positif yang tekun dilakoni sampai tua..
Klaten, tunggu kedatanganku lagi dengan cerita seru ya!🫶
Comments
Post a Comment